Diposkan pada Novel

Kuis Novel Fashion Terrorist Princess, berhadiah Novel. Gratissss !!


Syarat :

  1. Pengikutsertaan kuis ini harus menggunakan akun asli, bukan akun tiruan ataupun akun lainnya.
  2. Like catatan sinopsis ‘Fashion Terrorist Princess’ yang sebelumnya sudah aku upload di profilku, lihat di sini https://www.facebook.com/notes/vitria-apple/fashion-terrorist-princess-written-by-vitria-apple/207434219461667
  3. Copy catatannya tanpa mengganti judul atau apapun yang termasuk di dalamnya dan kemudian paste ke catatan yang kamu buat di akun kamu. Jangan lupa sertakan foto cover Fashion Terrorist Princess di dalam catatan kamu.
  4. Tag namaku dan juga tag teman-teman kamu, minimal ke 10 orang teman.
  5. Voting akan dilakukan dengan melihat hasil like dan komen terbanyak.
  6. Pengumuman pemenang akan di umumkan pada tanggal 14 Februari 2014.

Akan di cari 2 orang Pemenang yang akan mendapatkan masing-masing satu buah novel Fashion Terrorist Princess.
Selamat mencoba 🙂

72811_208315099373579_298331684_n

Iklan
Diposkan pada Novel

Fashion Terrorist Princess


             Annyeonghaseyo Chingu ^^ Hai haiiii, akhirnya aku mempost sesuatu lagi di sini. Kali ini aku mau promosiin novel aku. Novel debutku udah terbit looh, jangan lupa di beli ya 😀

            Sekedar pemeberitahuan, tokoh Shin Hyunji di dalam novel ini terinspirasi dari Super Junior Cho Kyuhyun. Maklum lah, sebagai seorang ELF, aku sangat mengagumi mereka. Jadi jangan heran kalau di novel ini kamu akan menemukan beberapa kali Super Junior kusebut-sebut ^^

Fashion Terrorist Princess

  • Penulis             : Vitria Apple
  • Editor               : Fatimah Azzahrah
  • Penerbit           : Cakrawala
  • Tebal               : 220 hal
  • Genre               : Romantic
  • Rate                 : 15+
  • Cast                 : Yuana Kim, Shin Hyunji, Jang Siwan, Kim Hwayoung
  • Price                : 38.000
  • Tersedia Di Book Store

Yuana Kim, hanyalah seorang gadis remaja biasa. Ia memiliki kehidupan tenang yang walaupun ia tidak memiliki banyak teman, ia masih menikmati kehidupannya. Namun, semua itu berubah saat Appa nya meninggal sehingga ia terpaksa menerima usul Harabojinya untuk pindah ke Korea. Walaupun ia merasa sulit untuk meninggalkan Jakarta, ia tetap setuju pindah ke Korea demi kebahagiaan Eomma nya.

Sebelumnya ia tidak pernah menyangka kalau ternyata Harabojinya adalah seorang Presiden Direktur sebuah manajemen artis yang cukup terkenal di Korea. Dalam sekejab, kehidupannya berubah seperti seorang Putri. Ia di kawal oleh bodyguard ke mana pun ia pergi, dan ia juga memiliki dayang-dayang yang siap melayaninya. Namun kehidupan mewah itu seolah tidak ada artinya karena di sekolah barunya itu ia di panggil Teroris Fesyen dan Monster oleh teman-teman barunya. Panggilan itu cukup beralasan, karena walaupun ia adalah gadis kaya raya, ia sama sekali tidak bisa berdandan.

Penderitaan hidupnya di sekolah seolah tidak cukup untuk memperparah hidupnya. Lewat sebuah kejadian mengesalkan, Yuana bertemu dengan Maknae dari boyband terkenal S1LV3R, Shin Hyunji. Shin Hyunji yang selalu bersikap ramah di depan publik ternyata memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengan imej nya selama ini. Pertengkaran demi pertengkaran dengan Hyunji pun tidak bisa Yuana hindari.

Bagaimana kelanjutan kisah Yuana dan Hyunji? Apakah kehadiran Jang Siwan, leader S1LV3R, yang terang-terangan menyukai Yuana, dan Kim Hwayoung, dancer S1LV3R sekaligus sepupu Yuanna yang digosipkan berkencan dengan Hyunji, bisa merubah hubungan mereka berdua? Dan rahasia seperti apakah yang mengintai kehidupan mereka berdua? Baca cerita serunya di Fashion Terrorist Princess dan temukan jawabannya 😀

DSC_0000064

 

Diposkan pada FanFic

[ FanFic ] Baby Don’t Cry Part 3


Screen-Shot-2013-09-29-at-1.29.58-PM

 

 

 

tumblr_mqu5l7BD3W1rofzc1o1_250Brukk…

Dengan sekali lompatan aku sudah berada di dalam lapangan tenis sekolahku. Suasana di lapangan itu tampak sepi, tidak terdengar ada suara sedikitpun, bahkan penerangan lampu di lapangan itu tidak terang, karena hanya ada dua lampu di sana, di dekat ruangan klub tenis dan di pintu pagar lapangan. Aku pun merasa aman karena satpam sekolah tidak mungkin melihatku menyelinap memasuki lapangan itu.

Aku melirik jam tangan pink di lengan kiriku, waktu di jam itu menunjukkan pukul 11.00 KST. Tidak heran kalau suasana di lingkungan sekolah sudah sangat sepi. Dan hanya orang-orang yang rajin lah yang masih berada di lingkungan sekolah itu. Salah satu alasanku datang ke lapangan itu adalah untuk bermain tenis. Bukan karena aku ngotot pengen jadi juara, tapi karena suasana hatiku sedang tidak nyaman. Eomma dan Appa kembali bertengkar sehingga aku kembali merasa rumah seperti neraka. Karena itulah kuputuskan untuk datang ke sini. Bermain tenis bisa membuat suasana hatiku kembali menjadi baik.

Dengan perlahan-lahan aku berjalan menuju tengah lapangan, dan karena penerangan lampu di lapangan itu sangat buruk, jadi jangan salahkan aku saat seseorang langsung memekik kesakitan sesaat setelah aku merasa seolah menginjak sesuatu.

“Apo !”, pekik seseorang yang dengan sukses membuat jantungku seolah keluar dari tempatnya karena pekikannya yang terdengar tiba-tiba.

“hyaa !!”, tidak kalah dengan pekikan orang itu, aku juga memekik kaget dan otomatis melangkahkan kakiku mundur beberapa langkah.

“Yak !! Ada apa denganmu? Gak liat ya ada orang berbaring di sini? Maen injak aja !” seru Baekhyun sambil memandangku dengan pandangan sebal.

“Mianhae, jeongmal mianhae. Yaa ! kamu juga sih, masa’ malam-malam begini malah berbaring di sini”, sahutku gak mau kalah, namun tetap merasa bersalah saat melihat Baekhyun mengelus-elus kakinya yang tanpa sengaja ku injak.

“Noona sendiri ngapain di  sini? Aku di sini karena… karena suasana hatiku sedang tidak nyaman…”, kata Baekhyun sambil tetap mengelus-elus kakinya.

Ehh? Suasana hati Baekhyun juga sedang tidak nyaman ya? kebetulan banget.

Aku menghela nafas, menundukkan kepalaku dan kemudian berkata, “Nado, suasana hatiku sedang tidak nyaman, makanya aku ke sini untuk menenangkan diri…”

Baekhyun tiba-tiba saja tertawa, entah karena apa, padahal aku tidak merasa telah mengucapkan sesuatu yang lucu.

“Kok ketawa, sih?”

Baekhyun menggelengkan kepala sambil menahan tawanya, “Aniyo, aku cuma merasa lucu aja karena ternyata pikiran Noona sama denganku, datang ke sini untuk menenangkan diri”

Mau tidak mau aku tersenyum mendengarnya. Memang, selain suasana hati kami berdua sama-sama sedang buruk, kami berdua sama-sama datang ke sini untuk menenangkan diri. Kebetulan yang aneh…

“Nah, karena suasana hati kita sedang jelek, bagaimana kalau kita bermain tenis? tapi harus ada taruhannya, Eottae?”, ajak Baekhyun dengan senyuman evil tapi masih terlihat manis.

“Taruhan?”, tanyaku bingung.

Baekhyun mengangguk. Ia kemudian menunjuk jaket kebangsaan klub tenis yang dipakainya dan berkata, “siapapun yang kalah harus bersedia memakai jaket ini selama seminggu. Berani?”

Seminggu? Jaket tenis?? hemm, apa yang harus ku lakukan? Setuju ataupun tidak setuju sama-sama akan merugikanku. Kalau aku menolak tantangannya maka aku akan terlihat pengecut di matany, dan bila aku menyetujui tantangannya… bagaimana kalau aku kalah? Aku pasti akan sangat malu memakai jaket tenis yang bertuliskan namanya di bagian belakang jaket. Bisa-bisa orang akan salah paham dan berpikir kalau aku menyukai Baekhyun.

“Gak berani, kan? sudah ku duga sih”

Aku memberengut, dan tanpa berpikir lebih lanjut lagi aku mengulurkan tanganku dan berkata dengan pedenya, “Setuju !”

Baekhyun tersenyum sumringah. Ia benar-benar terlihat imut saat tersenyum seperti itu, sayang sekali senyuman jenis itu jarang sekali di perlihatkannya, ia lebih sering tersenyum dengan penuh keangkuhan.“Okay”

Berikutnya, aku dan Baekhyun sudah asyik bermain tenis. Aku sangat berkonsentrasi pada permainan tenisku agar jangan sampai aku kalah. Pada babak-babak pertama aku bisa berbangga hati karena permainanku jauh lebih baik di atas permainan tenis. Aku sempat berpikir kalau Baekhyun kehilangan keahliannya bermain tenis karena ia terus saja tidak bisa mengimbangi permainan tenisku. Hingga akhirnya aku sadar, keahliannya tidak hilang, melainkan ia hanya sengaja bermain dengan santai untuk membuatku senang. Baekhyun membuatku jatuh bangun untuk menangkis serangan bolanya yang hampir 80% tidak bisa ku hadapi. Ia benar-benar pemain tenis yang handal dan bisa dipastikan siapa yang kalah saat permainan tenis kami saat permainan tenis kami berakhir.

Aku terduduk dengan lemas di lapangan tenis. Sedangkan Baekhyun bersorak penuh kemenangan. Ingin rasanya aku memukul kakinya dengan raket tenis yang kupegang namun segera kubatalkan itu saat terdengar derap langkah tidak jauh dari lapangan tenis.

Aku dan Baekhyun saling berpandangan dengan shock. Aku baru saja berniat mengatakan padanya untuk lari saat ia sudah terlebih dahulu menarik tanganku dan berlari dengan cepat menuju ruangan klub tenis.

Kami bersembunyi di dalam lemari peralatan tenis yang cukup besar sambil dengan waspada mendengarkan suara di luar ruangan.

“Tidak ada siapa-siapa”, seru sebuah suara.

“Tapi tadi di sini terdengar sangat berisik”, sahut suara yang satunya. Sepertinya para satpam sekolah itu telah mendengar keributan yang kami timbulkan di lapangan tenis. Aku Cuma bisa menahan nafas, takut kalau kedua satpam itu menemukan kami. Saking takutnya aku bahkan tidak menyadari kalau Baekhyun masih memegang erat tanganku. Saat menyadari hal itu aku dengan cepat menarik tanganku dari tangannya. Dan baekhyun langsung tersenyum evil, terlihat sangat menyebalkan sekali.

“Mungkin cuma kucing. Ayo, berkeliling ke dalam sekolah. Lebih baik mengawasi ruangan-ruangan daripada mengawasi lapangan kosong seperti ini”

Aku mendengar ada suara bersungut-sungut dan kemudian terdengar suara langkah kaki menjauh dari lapangan. Hingga akhirnya tidak terdengar ada suara lagi di sana.

Aku langsung bangkit dari tempat persembunyianku dan tanpa mengatakan apa-apa aku langsung keluar dari ruangan tenis. Baekhyun mengikutiku dalam diam dari belakang. Saat itu aku berpikir aku harus segera pulang ke rumah, berada lebih lama di lapangan itu bisa membuatku tertangkap satpam.

“Noona…”, panggil Baekhyun di belakangku. Saat itu kami sudah kembali berada di lapangan tenis.

Aku membalikkan badanku dan memandang Baekhyun dengan heran saat ia menjulurkan jaket klub tenis yang tadi dipakainya kepadaku. “Apa ini?”

“Jangan berpura-pura lupa pada tantangannya. Noona harus memakai jaketku selama seminggu, kan?”

Astaga. Benar. Aku lupa kalau aku sudah kalah dan mau tidak mau aku harus menepati janjiku untuk memakai jaket itu.

“Tapi ini kan belum di cuci”, tolakku. Siapa tahu dengan penolakanku ini Baekhyun akan membatalkan perjanjian kami.

“Cuci saja sendiri. Masa’ aku yang harus mencucinya? Ahh, kalau Noona malas mencucinya, Noona bisa memakainya tanpa mencucinya. Pilih mana?”

“Ish…”, desisku kesal. Ada-ada saja caranya untuk tetap mempertahankan perjanjian kami itu. Dengan sangat terpaksa akhirnya aku meraih jaket itu.

Baekhyun hanya tersenyum melihat ekspresi di wajahku. Ia adalah tipe bad boy tapi anehnya aku belum pernah melihatnya sekalipun berkelakuan buruk di depanku. Karena itu, saat ia duduk di lapangan dan memandang kea rah langit, aku malah ikut duduk di sampingnya, ikut memandang langit malam yang penuh bintang.

“Jadi… sebenarnya ada apa? ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, kan?”, tanyaku tanpa mengalihkan mataku dari langit di atas kami. Aku memang tidak melihat ke arah Baekhyun tapi aku yakin sekali ia memandangku untuk sesaat dan kemudian kembali memandang kea rah langit.

“Noona tahu kalau Taeyeon Noona sudah punya kekasih, kan? kenapa tidak memberitahuku?”, tanya Baekhyun pelan, tapi entah kenapa aku merasa sangat kaget mendengarnya.

Astaga. Jadi Baekhyun sudah tahu ya kalau Taeyeon eonni sudah punya kekasih? Tahu dari mana? Jangan-jangan hal itu yang mengganggu pikirannya saat ini.

Aku kehilangan kata-kata, tidak tahu harus mengatakan apa padanya, “Soal itu… aku… aku… mmm~….”

“Harusnya Noona mengatakannya lebih awal padaku sehingga aku tidak akan terlihat seperti orang bodoh di mata semua anggota klub kita”, kata Baekhyun lagi. Saat mendengar kalimatnya itu, yang kurasakan hanyalah rasa penyesalan. Kenapa kemarin aku tidak mengatakan hal itu padanya? Mungkin saja Baekhyun lebih menghargai kejujuran walaupun kejujuran itu akan menyakitinya.

“Mianhae…”, akhirnya hanya itu yang bisa ku ucapkan. Aku bahkan tidak sanggup memandangnya karena rasa bersalahku padanya.

“Gwaenchanayo. Tadinya aku merasa sangat down karena Taeyeon Noona sudah memiliki kekasih, padahal aku masuk ke sekolah ini karena Taeyeon Noona bersekolah di sini. Tapi sudahlah… hey, kenapa tampang Noona seperti itu?”, tiba-tiba saja Baekhyun menepuk lembut kepalaku. “Apa Noona merasa bersalah. Jangan seperti itu. Aku baik-baik saja. Apa yang harus kulakukan sekarang? Ternyata Noona sangat mempedulikanku”

Aku menepis tangan Baekhyun dan kembali memandangnya dengan sebal, “Kau ini !! Siapa yang mempedulikanmu, pede sekali !”

Baekhyun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku. Aku pasti terlihat sangat lucu di matanya.

“Setiap orang harus memiliki rasa kepercayaan diri, kan? mereka yang tidak memilikinya adalah mereka yang ingin dirinya terlihat kalah”, kata Baekhyun di sela-sela tawanya. Saat ia melihat tatapan kesalku, ia dengan cepat menambahkan, “Baiklah, mungkin rasa kepercayaan diriku memang berlebihan. Noona, berhentilah menatapku seperti itu, kau terlihat ingin menggigitku”

“Siapa yang ingin menggigitmu?”, sungutku. Aku kemudian memandang Baekhyun yang kembali memandang bintang. Rasanya sangat lega melihatnya bisa tertawa. Kupikir ia akan sedih selama berhari-hari, tapi ternyata tidak. Sepertinya ia adalah tipe orang yang cepat bangkit dari kesedihannya.

“Sudahlah, berhentilah memandangku seperti itu. Sudah kubilang kalau aku baik-baik saja, kan?”, kata Baekhyun tanpa memandangku. Ucapannya itu kembali membuatku menyesal telah mengkhawatirkannya.

“Bagaimanaa dengan Noona? Bukankah Noona datang ke sini karena ingin menenangkan diri juga?”, kali ini Baekhyun mengalihkan matanya dari langit malam dan memandangku dengan pandangan serius.

Aku tersenyum kecil padanya. Aku tidak yakin apa aku harus menceritakan hal-hal yang membuatku merasa sedih padanya. Aku baru mengenalnya, kan? Mustahil aku menceritakan masalah pribadiku pada seseorang yang belum begitu ku kenal. Tapi entah kenapa mulutku bergerak berlawanan dengan akal sehatku, dan mengucapkan hal-hal yang sebenarnya ingin kusimpan dalam hati.

“Orangtuaku bertengkar. Mereka hampir setiap hari bertengkar. Mereka bahkan bertengkar di depan adikku. Seolah-olah mereka menikah tanpa rasa cinta, padahal dari cerita yang pernah mereka ceritakan padaku, mereka saling mencintai dan memiliki banyak kenangan indah sebelum mereka menikah. Karena itu… aku heran, ke mana perginya cinta yang mereka miliki?”

“Orangtuamu? Kupikir kau sedih karena kekasihmu…”, kata Baekhyun.

“Sebenarnya, dua-duanya sih. Aku kecewa dengan orangtuaku dan juga… aku kecewa dengan kekasihku…”, kataku seraya tersenyum kecut. Tidak pernah ku sangka aku akan mengatakan hal-hal ini seperti ini pada Baekhyun.

“Terkadang… orangtua memang seperti itu. Berbeda dengan orangtuamu yang sering bertengkar, orangtuaku malah jarang berada di rumah. Bahkan saat liburan sekalipun, aku harus melewatinya seorang diri. Meskipun mereka bertengkar di depanmu, paling tidak kau masih bisa melihat mereka setiap hari, kan Noona? Aku tidak, kedua orangtuaku lebih banyak di luar rumah”

“Ini artinya aku harus lebih bersyukur pada hal ini, ya?”, tanyaku. Baekhyun tersenyum mendengar pertanyaanku, ia kemudian menganggukkan kepalanya.

“Lalu… kenapa kau kecewa pada kekasihmu?”

Aku menghela nafasku, dan berkata dengan serius, “Luhan Oppa hilang entah kemana. Dia gak datang ke pesta hari jadi kami, dan membuatku menjadi seperti orang bodoh menunggunya sampai pesta selesai. Aku sudah mencarinya ke rumahnya, tapi dia tidak ada, dia bahkan tidak mengaktifkan nomor handphone-nya”

“Dia gak datang ke pesta hari jadi kalian? Bagaimana bisa?”, tanya Baekhyun dengan wajah penasaran.

Aku menggelengkan kepalaku, sebenarnya aku sudah bosan membahas hal ini. Saking bosannya sampai aku ingin melupakan semua hal tentang Luhan. Tapi aku gak bisa, aku mencemaskannya dan sekaligus aku membencinya.

“Molla… aku tidak bisa menghubunginya… bukankah seharusnya ia memberitahuku kalau ia sedang sibuk? Aku kan kekasihnya…”, kataku lagi. Aku menundukkan wajahku. Aku tidak mau Baekhyun melihat wajahku yang sedang mati-matian menahan tangis.

“Dia bodoh…”, kata Baekhyun yang langsung membuatku mendongak memandangnya.

“Mworago?”

“Dia bodoh. Hanya orang bodohlah yang sanggup menyakiti orang sebaik Noona. Harusnya ia merasa beruntung karena Noona sangat mencintainya, bukannya malah menghilang dan membuat Noona sedih seperti ini…”, kata Baekhyun, ia tersenyum lembut padaku sehingga rasa sedih yang membuatku ingin menangis tadi, perlahan-lahan menghilang.

“Hyun ah…”, aku tidak tahu harus mengatakan apa karena aku merasa sangat terharu pada kalimatnya. Tidak kusangka ia akan berpikir seperti itu.

Baekhyun bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya padaku, “Noona, bangunlah. Cowok seperti itu gak pantas membuat Noona sedih. Seperti aku, aku bahkan menerima kenyataan kalau Taeyeon Noona sudah memiliki kekasih. Noona juga harus seperti itu”

Aku tersenyum kecil mendengarnya. Baekhyun benar. Aku harus menerima kenyataan seandainya Luhan meninggalkanku. Tapi masalahnya, apa aku bisa seperti Baekhyun yang dengan ikhlas menerima kenyataan?

“Ayo, hari sudah sangat malam, kan? akan sangat berbahaya kalau Noona pulang sendirian. Aku akan mengantar Noona pulang”, kata Baekhyun lagi sambil tetap mengulurkan tangannya. Aku memandang tangannya untuk sesaat dan kemudian segera ku sambut uluran tangannya. “Tenang saja. Selama ada aku, Noona pasti akan baik-baik saja”

Baekhyun tersenyum lebar. Senyumannya itu membuatku merasa tenang. Ahh, mungkin karena senyumannya itulah banyak cewek-cewek yang menyukainya. Baekhyun memang tipe cowok yang bad boy tapi terkadang ia bisa bersikap manis dan membuatmu tenang saat berada di dekatnya.

To Be Continue

Diposkan pada FanFic

[ FanFic ] Baby Don’t Cry Part 2


“Anak-anak, tolong perhatiannya sebentar !”, seru Pelatih Kim Jaejoong yang baru saja memasuki lapangan tenis. Seruannya itu sukses mencuri perhatian seluruh anggota klub tenis yang sedang berlatih di lapangan tenis itu. Termasuk aku dan Song Juhee yang sejak tadi tidak berlatih tenis tapi hanya mengobrol saja.

“Kita mempunyai anggota baru di klub kita. Dia memiliki prestasi tenis yang sangat bagus. Dia pernah meraih juara 1 dalam pertandingan tenis tingkat junior beberapa tahun yang lalu. Meskipun dalam beberapa tahun ini ia tidak lagi bermain tenis, tapi bisa dipastikan kehebatannya sama sekali tidak berkurang”, kata Pelatih Kim Jaejoong sambil tersenyum cerah. Setelah mengatakan itu ia langsung menoleh ke pintu lapangan dan kembali berseru, “Byun Baekhyun, masuklah, perkenalkan dirimu”

Seluruh pasang mata di lapangan tenis itu langsung menoleh kea rah pintu lapangan. Dan dari sana terlihat seorang cowok tinggi, imut, berkulit putih dan memakai eyeliner tebal di matanya, sedang berjalan dengan perlahan memasuki lapangan tenis hingga akhirnya ia berhenti tepat di samping Pelatih Kim Jaejoong.

Aku yang sudah sejak tadi memperhatikan cowok itu kontan saja membelalakkan mata. Cowok itu !! Dia adalah cowok yang kemarin ku temui di lapangan ini, kan? Meskipun sekarang ia sudah mengenakan jaket kebangsaan klub tenis, tetap saja ia terlihat menyeramkan, khususnya matanya yang penuh dengan eyeliner itu.

“Annyeonghaseyo, Byun Baekhyun imnida. Bangapseumnida…”, seru Baekhyun. Ia tersenyum kecil dan membungkukkan badannya.

Astaga, kenapa ia harus tersenyum seperti itu? Senyuman yang terkesan angkuh dan membuat Song Juhee yang berdiri di sampingku langsung menjambak tanganku. “Kau lihat senyumnya? Tampan sekali”, bisik Juhee bersemangat.

Aku benci mengatakan ini, tapi Juhee Eonni memang benar. Cowok bernama Byun Baekhyun itu sangat tampan, yeaah meskipun dalam sekali lihat saja kau bisa menebak kalau dia adalah tipe Bad Boy, hal itu tidak akan mengurangi rasa kagummu padanya. Seperti yang sekarang sedang dilakukan oleh semua cewek di lapangan Tenis itu. Semua cewek, termasuk aku, memandang Baekhyun dengan kagum. Bahkan saat aku mengalihkan mataku pada Juhee Eonni, aku bisa melihat ia sedang berusaha tersenyum manis untuk menarik perhatian Baekhyun.

Tapi… ASTAGA. Siapa yang mengira kalau beberapa saat kemudian aku harus melihat Juhee Eonni yang cemberut karena gagal menarik perhatian Baekhyun. Tentu saja, siapa yang mengira kalau Baekhyun lebih senang mendekati Kim Taeyeon, temannya Juhee Eonni dan juga merupakan kebanggaan klub tenis kami.

Saat aku dan Juhee Eonni saling berpasangan untuk berlatih tenis. Tidak terlihat ada senyuman di wajahnya. Ia hanya cemberut, cemberut, dan cemberut. Sesekali ia melirik ke arah Taeyeon Eonni dan Baekhyun yang sedang berlatih tenis di dekat kami. Aku pun tidak berani mengatakan sepatah kata pun, takut malah kena semprot Juhee eonni. Suasana berlatih kami pun jadi terasa kayak berlatih di neraka. Tuhaaan, tolong aku… T_T

Berbeda dengan kami, suasana di antara Taeyeon eonni dan Baekhyun malah terlihat seperti neraka. Mereka berdua saling bercanda saat berlatih, dan bahkan terkadang Taeyeon eonni tertawa keras saat Baekhyun mengatakan sesuatu yang konyol. Eyy, ini aneh. Tapi entah kenapa aku malah merasa kalau mereka berdua sudah lama saling kenal.

Mungkinkah ada hubungan sspesial di antara mereka berdua? Astaga, aku langsung memukul kepalaku saat aku tersadar hal dalam pikiranku itu tidak mungkin dan alhasil aku tidak berhasil menangkis bola tenis yang Juhee eonni arahkan padaku.

“Andwae !”, jeritku saat melihat bola tenis itu menggelinding jauh ke tepi lapangan.

“Omo, Joohyun ah, waegeurae?”, tanya Taeyeon eonni. Ia memandangku, begitu juga para anggota klub tenis yang lain, sepertinya mereka semua kaget karena jeritanku.

“A-aniyo Eonni…”, sahutku sambil membungkukkan badan beberapa kali ke beberapa arah. “aku cuma kaget karena bola tenis milik kami menggelinding ke sana”

Taeyeon menoleh kea rah yang ku tunjuk, dan kemudian tersenyum. “Sepertinya kau kurang berkonsentrasi hari ini… Joohyun ah, hwaiting !!”

Aku memaksakan diriku untuk tersenyum, seandainya Taeyeon eonni tahu apa yang tadi ku pikirkan tentangnya pasti ia tidak akan memberiku semangat seperti ini. Ahh, tiba-tiba saja aku merasa sangat jahat. Taeyeon eonni gak mungkin ada hubungannya dengan cowok eyeliner itu. Taeyeon eonni kan sudah memiliki kekasih, Jung Yonghwa. Taeyeon eonni dan Yonghwa Oppa bahkan sangat mesra, tidak mungkin Taeyeon eonni mau melepaskan Yonghwa oppa hanya demi cowok eyeliner itu.

Dengan agak malas akhirnya ku bawa kakiku menuju bola tenis yang terdiam manis di tepi lapangan. Aku baru saja memungut bola itu saat kudengar Pelatih Kim Jaejoong berkata, “Baiklah, waktunya istirahat. Seo Joohyun, tolong belikan minuman untuk semua anggota”

Aku? Kenapa harus aku?? Baru saja aku mau membuka mulutku, sebuah pikiran langsung terlintas di pikiranku. Pelatih selalu menyuruh seorang anggota yang dinilainya tidak berlatih maksimal untuk membelikan minuman, makanan, dan segala macamnya. Astaga, bukankah itu artinya hari ini aku terlihat buruk di mata pelatih? Ini pasti gara-gara aku tidak konsentrasi saat berlatih.

“Ne. Araseoyo…”, sahutku pelan, penuh keterpaksaan.

Dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, selain hanya melemparkan bola yang ku pungut pada Juhee Eonni, aku segera melangkahkan kakiku keluar lapangan.

Sial banget sih aku hari ini. Pertama, ketemu lagi dengan cowok eyeliner yang menyebalkan itu. Kedua, berlatih dengan suasana kayak di neraka dengan Juhee eonni. Ketiga, membelikan minuman untuk semua anggota klub. Bukan masalah duitnya, tapi masalah repotnya membawa semua minuman itu ke lapangan tenis itu looh. Aku kan cuma punya dua tangan, gak sanggup pastinya membawa minuman segitu banyaknya.

Dan, benar kan? Sekarang, saat aku sudah berdiri di depan mesin penjual minuman, aku hanya bisa melongo memandangi banyaknya minuman yang harus ku bawa.

Aku meraih handphone milikku dan memencet no Juhee eonni. Aku perlu bantuan untuk membawa semua minuman ini. Tapi saat ingat hari ini suasana hatinya sedang tidak bagus, aku segera membatalkan panggilanku.

Bagaimana dengan Taeyeon eonni? Ahha, dia orang yang baik, dia pasti mau membantuku membawa semua minuman ini dan juga hari ini mood nya terlihat bagus.

Aku segera mencari nama Taeyeon eonni di hape-ku. Aku tidak melihat ke sekitarku dan hanya berkonsentrasi dengan hape-ku, sehingga aku tidak menyadari beberapa murid cowok mendekat ke arahku. Makanya, saat aku berhasil menemukan nama Taeyeon eonni dan menempelkan hape-ku ke telinga,  aku langsung kaget melihat ada beberapa cowok di sekitarku.

“Ada apa ya?”, tanyaku dengan takut. Aku mengenali mereka sebagai murida kelas 3. Mereka cukup terkenal di sekolah itu karena sering berbuat onar. Mereka cuma berempat, tapi mereka adalah pemimpin para gangster di sekolah.

“Banyak amat lo beli minuman. Sinii, berikan semuaya ke gue. Anak-anak gang gue pada kehausan”, seru seorang cowok tinggi dengan suara keras. Dia adalah Lee Joon. Bos para berandalan itu.

“Jweisonghamnida Sunbae, tapi minuman ini untuk anggota klub tenis”, kataku dengan suara pelan. Aku tidak berai memandang Lee Joon sunbaenim, dan hanya menundukkan kepalaku.

“Siapa yang peduli?! Kalau gue bilang minuman ini untuk gang gue berarti minuman ini milik kami !”, hardik Lee Joon, suaranya yang keras semakin membuat nyaliku ciut.

“Joon ah, sudah deh. Lo gak kasihan apa? tuh lihat anak orang sudah mau nangis gitu”, kata salah seorang dari mereka dengan suara yang penuh dengan nada ejekan. Mendengarnya semakin membuatku semakin menundukkan kepalaku.

“Habisnya nih anak belagu banget sih. Seenaknya nolak ucapan gue”, kata Lee Joon, ia melangkahkan kakinya semakin dekat denganku. Dan apalagi yang bisa kulakukan selain hanya bergemetar ria? Gak ada kan, sial banget aku hari ini T_T

“Dompet lo mana? Buruan kasihin ke gue !!”, tanya Lee Joon. Walaupun aku hanya menundukkan wajahku, tidak melihat ke arahnya, aku cukup tahu kalau saat ini ia sedang memandangku. Tanpa sadar aku menahan nafasku, dan meraih dompetku dari dalam saku seragam secepat yang aku bisa. Tapi bukannya cepat, dompet di tanganku malah terjatuh karena tanganku terlalu gemetar saat meraihnya.

“Lo cari masalah, ya?”, hardik Lee Joon yang dengan sukses membuat jantungku seperti berhenti berdetak saking kagetnya. Ia langsung mendorongku, yang walaupun pelan saja, sukses membuatku terhempas ke mesin minuman dan akhirnya terjatuh dengan malangnya di sisi mesin itu.

“Sampah lo ya !!”, hardik Lee Joon lagi, dan kali ini ia bermaksud memukul wajahku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menutup wajahku dengan tangan.

Kupikir inilah akhir dari hidupku. Aku akan dibuat babak belur oleh seniorku dan akan di bawa ke rumah sakit untuk di tolong, tapi mungkin akan terlambat karena lukaku terlalu parah. Kupikir sudah pasti seperti itu.

Brukk. Aku mendengar bunyi gedebuk keras seperti suara orang jatuh. Terdengar keras sekali seperti di depanku. Tapi anehnya, aku tidak merasa mendapat pukulan satu kalipun. Lalu, dari mana bunyi bakbikbuk pukulan itu berasal?

Dengan sangat perlahan, aku membuka kedua mataku yang tadi kututup rapat karena takut. Dan astaga ! Apa-apaan ini?

Aku melongo memandang pemandangan di depanku. Para berandalan yang tadi menggangguku sekarang sedang berjatuhan di lantai karena berkelahi dengan seseorang yang berdiri di depanku.

“Dasar pengecut. Beraninya sama cewek aja ! Kalau lo cukup berani, hadapi orang yang setingkat ama lo !”, seru orang itu.

Aku melihat ada kilatan marah di mata para berandalan itu, namun mereka tidak balas memukulnya. Melainkan hanya berdiri dan segera kabur dari sana.

Aku yang sedang shock karena melihat perkelahian di depan mataku, tidak bisa berpikir dengan normal saat orang itu membalikkan badannya dan memandangku sambil berkata, “Gwaenchanayo, Sunbae?”

Ehh? Suara itu. Setelah shock-ku hilang, aku segera mendongakkan kepalaku, balas memandangnya, “Baekhyun ssi”

Byun Baekhyun tersenyum kecil, ia lalu mengulurkan tangannya padaku. “Mianhaeyo, sepertinya aku membuat Sunbae kaget. Tapi aku benar-benar tidak punya pilihan lain selain hanya berkelahi dengan mereka. Mereka sangat keterlaluan. Harusnya mereka tidak mengganggu Sunbae”

Aku menyambut uluran tangannya. Dan sekarang aku sudah bisa berdiri meskipun pantatku rasanya sangat sakit karena tadi terbentur lantai.

“Gomawo Baekhyun ssi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau tidak menolongku”

“Palingan Sunbae akan babak belur”, sahut Baekhyun singkat namun sukses membuatku melongo kaget. Saat melihat ekspresiku, ia malah tertawa dan kembali berkata, “Hanya bercanda. Baiklah, ayo kita bawa semua minuman ini ke lapangan. Mereka sudah sangat kehausan”

“Ahh, kau benar. Aku pasti akan di tegur pelatih karena terlalu lama membeli minuman”, kataku sambil meraih satu persatu botol minuman itu.

“Aku bisa menjelaskan keadaan di sini pada pelatih kalau Sunbae mau, bagaimanapun juga ini bukan kesalahan Sunbae, kan? berandalan itu yang menahan Sunbae di sini”

Aku menggelengkan kepalaku, “kalau kau lakukan itu kau pasti akan mendapat poin karena telah berkelahi di sekolah”

“Ahh, benar. Jadi, apa yang akan Sunbae katakana untuk membela diri?”, tanya Baekhyun. Saat itu kami sedang berjalan dengan sangat perlahan sambil membawa semua minuman menuju lapangan tenis.

“Tidak ada. Aku hanya akan meminta maaf karena membuat mereka lama menunggu…”

“Apa?”, tanya Baekhyun, entah ia kurang jelas mendengar ucapanku atau entah apa, sekarang ia menghentikan kakinya dan memandangku dengan heran.

“Aku tidak akan mengatakan apa-apa. Aku hanya akan minta maaf, itu saja…”, kataku lagi.

“Tapi Sunbae pasti akan di tegur Pelatih, kan? setidaknya katakana sesuatu untuk membela dirimu”

Aku menggelengkan kepalaku, tersenyum kecil padanya seraya berkata, “Tidak apa. Aku sudah cukup terbiasa mendapat teguran dari pelatih. Ya ! Ayoo cepat, mereka sedang menunggu kita, kan? kenapa kau malah berhenti berjalan?”

Dan tanpa menunggu reaksi dari Baekhyun, aku segera melanjutkan langkahku menuju lapangan. Benar saja, saat aku tiba di sana, beberapa anggota klub tenis terlihat sedang bersungut-sungut saat melihatku. Aku langsung meletakkan botol-botol minuman di tengah lapangan dan sebelum ada seseorang yang bertanya alasanku terlalu lama membelikan minuman mereka, aku segera berkata, “Maaf telah menunggu lama. Saya benar-benar minta maaf”

“Kau membelinya di Arab, ya? lama banget”, celutuk salah seorang anggota klub tenis. Aku menolehkan kepalaku ke arah orang itu dan menyadari kalau yang menyelutuk itu adalah Cho Kyuhyun, seniorku di klub itu.

“Jweisonghamnida…”, ucapku lagi, kali ini aku membungkukkan badanku dalam-dalam.

“Sudah, sudah… jangan berisik. Ambil minuman kalian, dan pastikan kalian benar-benar istirahat. Kita akan kembali latihan tiga puluh menit lagi”, seru Pelatih Kim Jaejoong. Ia meraih sebotol air mineral dan membawanya ke dalam ruangan kecil di samping lapangan. Itu adalah ruangan milik klub tenis. Ada banyak peralatan kami di dalam sana, dan tempat itu juga merupakan tempat Pelatih Kim Jaejoong untuk beristirahat.

Beberapa anggota klub tenis mulai mengambil minuman mereka satu persatu. Byun Baekhyun yang sudah berada di sana, juga mengambil jatah minumannya dan kembali mengobrol dengan Taeyeon Eonni.

Aku tidak tahu harus melakukan apa, karena itu setelah mengambil botol minumanku, aku duduk bergabung dengan Juhee eonni yangs edang mengobrol dengan Sooyoung eonni. Mulanya aku berniat hanya bergabung dengan mereka, tapi aku tidak bisa menahan diriku untuk ikut bergabung dengan obrolan mereka yang sedang membahas hubungan Baekhyun dan Taeyeon.

“Eonni, tadi kau bilang apa?”, tanyaku pada Sooyoung eonni.

Sooyoung yang sedang memandang Juhee eonni langsung mengalihkan matanya ke arahku, “Taeyeon dan Baekhyun adalah teman sejak kecil. Tidak heran kalau mereka terlihat sangat dekat”

“ehh, bahkan nih ya, dari gossip yang aku dapat dari Lee Sunny. Katanya sii Baekhyun itu naksir Taeyeon looh…”, kata Jessica Jung yang secepat kilat langsung bergabung dengan kami.

“Mwo???!”, aku, Juhee dan Sooyoung sontak memandangnya.

Jessica Jung tersenyum bangga, seolah ia sedang mengetahui sebuah rahasia dunia yang sangat penting. “Iyaaa beib, aku kan satu sekolah ama mereka, jadinya aku tahu. Baekhyunitu emang dari SMP dulu naksir Taeyeon, tapi Taeyeon selalu nolak dia, Taeyeon kan nganggap dia sebagai adik doang”

“Omo, jinjjaaa?”, seru Juhee dengan mata yang terbuka lebar. Gak yakin sih, tapi kayaknya ucapan Jessica Eonni tadi itu sukses membuatnya semakin patah hati.

“Ho’oh beib, makanyaaaa, tuh lihat aja mereka. Baekhyun kelihatan banget selalu membuat Taeyeon tertawa dengan gurauan-gurauannya”, kata Jessica eonni sambil menunjuk kea rah Taeyeon dan Baekhyun yang sedang duduk berdua di tepi lapangan tenis. Mereka berdua terlihats edang asyil bercanda.

“Kok gitu siiih. Harusnnya kan kalo dia tahu Taeyeon selalu nolak dia, dia nyari cewek lain yang jelas-jelas suka ama dia. Dia gak lihat apa ada yang suka ama dia dan rela seumur hidup hanya mencintainya”, kata Juhee sambil memandangi Taeyeon dan Baekhyun dengan ekspresi gak rela.

“Maksud kamu?”, tanya Sooyoung, ia menatap Juhee dengan heran, begitu juga dengan Jessica.

“Yea, maksud aku tuh, dia pasti punya seseorang yang menyukainya, kan? dia tampan gitu”, kata Juhee sambil cengengesan, terlihat jelas dia salah tingkah.

“Dia itu imut…”, ralat Jessica.

“Tapi kan dia juga tampan, lihat aja tuh senyumnya. Aku paling suka ama eyelinernya”, sahut Juhee.

“Kamu naksir Baekhyun, ya?”, tanya Sooyoung dengan mata yang penuh selidik.

Song Juhee tertawa, namun bagiku tawanya terdengar seperti tawa salah tingkah. “Ani… kenapa juga aku harus naksir ama dia, hhahaha…”

Mendengar ucapannya itu aku hanya tersenyum kecil. Okay, daripada ntar aku yang kena mood jeleknya lagi, lebih baik aku segera menyelamatkan diri. Aku meraih botol minumanku dan beranjak dari sana.

Masih ada 15 menit lagi sebelum latihan kembali di mulai. Aku bisa memanfaatkannya untuk duduk santai di atap gedung sekolah. Entah kenapa, atap gedung sekolah dan lapangan tenis adalah dua tempat favoritku di sekolah. Dua tempat itu bisa membuat pikiranku yang kusut menjadi tenang.

Karena saat ini sore hari, seandainya saja aku bolos dari latihan tenis, aku bisa melihat matahari terbenam dari atap gedung sekolah. Tapi sekarang, aku tidak berani melakukan itu. Hari ini aku sudah cukup sial, aku tidak mau menambah kesialanku lagi.

Saat sudah berada di atap gedung sekolah. Aku segera berbaring dan merasakan sinar matahari sore yang sudah tidak terlalu menyengat lagi. Ahh, damai rasanya… inilah kebahagiaan dunia. Di tengah keheningan di atap itu, tanpa bisa dicegah lagi pikiranku dengan sendirinya mengingat beberapa kenanganku dengan Luhan Oppa. Saat jam istirahat latihan tenis, seperti sekarang, biasanya aku dan Luhan Oppa berada di sini. Kami menikmati sinar matahari sore bersama-sama. Kami saling bercanda, menceritakan bagaimana hari yang kami lewati dan sama-sama menulisnya di buku diary. Aku dan Luhan Oppa memang memiliki buku diary yang sama, bahkan kami saling bertukar buku diary untuk mengetahui pikiran masing-masing.

Tapi semua cerita manis itu hilang seiring dengan menghilangnya Luhan Oppa. Dia menghilang. Benar-benar menghilang. Tidak ada satupun temannya yang tahu, bahkan Kris yang merupakan partnernya berlatih tenis pun tidak tahu ke mana ia pergi.

Aku sudah berkali-kali berusaha menghubunginya tapi selalu gagal. Di tengah semua ketidakpastian ini, aku pun berpikir kalau ia tidak lagi menyukaiku. Aku berpikir ia telah bosan bersamaku. Kesimpulanku itu ada alasannya. Bayangkan saja, kalau dia masih menyukaiku, sudah pasti dia akan menghubungiku sebelum pesta kami dimulai. Tapi tidak, ia malah menghilang, tanpa jejak dan membuat pesta hari jadi kami kacau balau.

Entahlah, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus ku katakan padanya saat nanti ia muncul di depanku. Mungkin aku akan marah dan meninggalkannya secara sepihak seperti yang ia lakukan.

“Sedang apa Sunbae di situ? Ntar hitam loh…”

Aku tersentak kaget. Lamunanku tentang Luhan oppa langsung buyar. Aku segera membuka mataku saat mendengar suara itu, dan saat melihat wajah Baekhyun yang sedang memandangku dengan heran, aku langsung duduk dengan secepat kilat.

“Yaak !! Kau mengagetkanku !”, seruku padanya.

Baekhyun tertawa. Setelah tawanya reda, ia langsung duduk di sampingku dan kembali berkata, “Mianhaeyo Noona. Ahh, bolehkah aku memanggilmu Noona saja?”

Aku memberengut mendengar ucapannya, tapi karena wajah Baekhyun sangat imut meskipun ia memakai eyeliner tebal, aku langsung menganggukkan kepalaku. “Baiklah, dan izinkan aku memanggilmu, Baekkie”

“Baekkie?! Sirreoyo !!”, tolaknya.

“Omo, wae? nama itu terdengar imut, kan?”

Baekhyun terlihat menghela nafas, “Dengar, aku tidak suka orang-orang menyebutku imut, aku lebih senang mereka menyebutku tampan”

Astaga, ada-ada saja. Mau tidak mau aku langsung tertawa mendengar sahutannya itu. “Baiklah, baiklah… Hyun, aha~ bagaimana kalau aku memanggilmu Hyunie saja?”

Baekhyun memicingkan matanya, sepertinya ia sedang memikirkan usulku tadi.

“Setuju. Plaing tidak nama itu terdengar lebih bagus daripada Baekki, kan?”

Aku kembali tertawa mendengarnya. Dan saat itu juga pikiranku tentang Baekhyun sudah berubah. Aku tidak lagi melihatnya sebagai seorang cowok yang bertempramen buruk. Baekhyun adalah orang yang baik. Walaupun eyeliner di matanya membuatnya terlihat seram, tapi senyumannya telah membuktikan kalau ia bukanlah orang yang jahat.

Ahh, benar. Tiba-tiba saja aku teringat tentang gossip dirinya dengan Taeyeon eonni. Mungkinkah ia benar-benar naksir pada Taeyeon eonni?

“Hyunie ah, apa kau benar-benar datang ke sekolah ini karena Taeyeon eonni?”, tanyaku perlahan pada Baekhyun yang sedang asyik memandangi langit sore.

Hening. Ia tidak menjawab pertanyaanku. Segera ku sadari kalau tidak sepantasnya aku menanyakan hal itu padanya. Kami baru bertemu hari ini, dan kami masih belum cukup akrab untuk saling berbagi berbagai masalah kehidupan.

“Araseo, mianhae, tidak seharusnya aku berta-“

“Dia adalah cinta pertamaku”, jawab Baekhyun seolah tanpa sadar ia telah memotong ucapanku.

“Ehh?”, aku memandang Baekhyun yang masih memandang langit. “Cinta pertama?”

Baekhyun mengangguk, dengan masih tetap memandang langit, ia kembali berkata, “Taeyeon noona dan aku sudah dekat sejak kecil. Tapi lebih dari sekedar menganggapnya sebagai seorang Noona. Aku menyukainya sebagai seorang laki-laki…”

Astaga, apa yang harus ku katakan sekarang? Aku tidak mungkin mengatakan padanya kalau Taeyeon eonni sudah bersama dengan Yonghwa oppa, kan? aku tidak mau menyakitinya.

To Be Continue

seostare

250724_498933533502725_865788516_n

Diposkan pada FanFic

[ FanFic ] Baby Don’t Cry Part 1


              “Bohong ! Appa bohong !! Ini wangi parfum wanita, ini bukan bau pengharum ruangan !!”, jerit Eomma sambil melemparkan kemeja putih milik Appa yang baru saja di ambilnya dari tumpukan baju kotor ke arah Appa.

            Appa yang sedang menyantap nasi goreng sontak kaget saat kemeja miliknya itu mendarat tepat di atas nasi gorengnya. Appa langsung berdiri dan menghadapi Eomma yang berdiri tidak jauh darinya dengan wajah galak.

        “Itu benar-benar wangi pengharum ruangan !! Eomma pikir Appa selingkuh ya?”, seru Appa dengan suara lantang.

            “Iya. Appa memang selingkuh !! Ngaku aja !! Appa selingkuh dengan teman kerja Appa, kan? dengan Janda genit itu !!”, balas Eomma, suaranya tidak kalah keras dengan suara Appa.

            “Mana buktinya? Manaaaa??? Jangan sembarang nuduh kamu itu ya !! Dan… Minkyung itu bukan janda genit, dia wanita pintar, setidaknya dia bisa membedakan yang mana hal benar dan hal salah, tidak seperti Eomma yang sembarang nuduh !!”

            “Nah, ini buktinya !! Appa lebih membela janda itu daripada istri Appa sendiri !! Ngaku aja kalo Appa tertarik sama janda itu !!”

            Brakk. Suara gebrakan tangan Appa di meja sontak membuat Eomma dan semua orang yang ada di ruangan itu terdiam. Baik Eomma, aku, Jihyuk, dan Seohwa Ajeomma, tidak ada satupun yang berani bergerak dari tempatnya.

          Dari sudut mataku, aku melirik Appa yang sedang berjalan menghampiri Eomma. Wajah Appa dan wajah Eomma sama-sama dipenuhi oleh amarah, bahkan hanya dengan sekali lirikan saja aku bisa melihat Eomma yang sedang menahan nafas, seolah berusaha meredam kemarahannya. Terlebih saat Appa sudah berhadap-hadapan dengan Eomma. Eomma semakin terlihat berusaha menahan amarah dalam dirinya.

           “Apa kamu tidak capek begini terus? Aku capek, capek dengan semua kecemburuan kamu !! Aku ini suami kamu, bukan orang berhati rendah yang yang mengumbar hati pada siapa pun !!”, kata Appa, pelan saja, tapi kalimatnya itu terdengar penuh dengan kemarahan.

          Aku mengalihkan mataku dari mereka berdua, kembali memandang nasi goreng bikinan Seohwa Ajeomma yang baru setengahnya ku makan. Aku tidak mau memandang mereka lagi. Rasanya sangat sakit. Hatiku tidak terasa utuh, terasa seperti di sayat-sayat tipis secara perlahan-lahan. Aku tidak pernah suka dengan Pertengkaran, terlebih itu adalah pertengkaran orangtuaku sendiri.

       Tapi aku tidak bisa menyalahkan siapapun, tidak Appa, juga tidak Eomma. Aku hanya menyalahkan keadaan. Keadaan yang membuat keluargaku seperti ini, keadaan yang membuat rumah seperti neraka.

           Baiklah, namaku Joohyun, lengkapnya Seo Joohyun. Aku adalah murid kelas 2 HwangRa High school. Sebuah sekolah swasta yang tidak bisa dibilang elite karena berbagai fasilitasnya masih kalah jauh dibandingkan sekolahan negeri. Tapi meskipun HwangRa high School tidak terkenal karena kemewahannya, aku tetap merasa bangga sekolah di sana. Sekolah itu mempunyai beberapa tim olahraga yang tangguh. Karena aku menyukai tenis, aku pun bergabung dengan ekskul tenis sejak kelas 1. Meskipun aku tidak begitu mahir bermain tenis, tapi yang pasti aku bisa masuk ke tim utama.

     Oke, balik lagi ke kehidupan pribadiku. Sebenarnya, aku tidak menyalahkan siapapun dalam pertengkaran keluargaku, aku memiliki pikiranku sendiri. Setidaknya, sebagai orangtua, tidak sepantasnya kan mereka bertengkar di depan kami. Aku memang sudah cukup dewasa untuk bisa memahami apa yang terjadi. Tapi bagaimana dengan Jihyuk? Adikku itu masih berusia enam tahun, masih duduk di sekolah dasar. Jihyuk masih terlalu kecil untuk memahami semua kekacauan di keluarga kami. Ia masih terlalu kecil untuk mengerti alasan dibalik pertengkaran Appa dan Eomma. Apa jadinya ia nanti kalau ia dibesarkan di keluarga yang seperti ini? Aku takut ia akan tumbuh menjadi seseorang yang terbiasa dengan kekacauan. Ahh, tidak. Adikku tidak boleh seperti itu.

Tapi bagaimana lagi? Aku hanya seorang remaja, omonganku tidak akan pernah di dengarkan oleh para orang dewasa. Aku hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan di mata mereka. Karena itu aku muak. Muak dengan semua ini, muak dengan diriku sendiri.

Ku alihkan mataku pada Jihyuk, adikku itu sekarang juga sedang berhenti menyantap nasi goreng miliknya. Pandangan Jihyuk terarah pada kedua orangtua kami. Ahh, apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang harus kulakukan agar Jihyuk berhenti memandang Appa dan Eomma.

Udang, benar. Jihyuk kan suka udang. Aku harus mengalihkan perhatiannya dengan udang itu.

“Kalau kau tidak suka ku cemburui, hiduplah sesukamu sendiri. Jangan pernah mengharapkan kehadiranku lagi !!”, seru Eomma dengan suara melengking. Aku yang sedang menjulurkan tanganku untuk mengambil udang langsung menghentikan gerakanku.

Eomma berlari ke arah meja  makan, meraih Jihyuk dan langsung membawanya keluar dari ruangan itu. Beberapa menit berselang, suara mobil di hidupkan langsung terdengar dari arah halaman. Itu adalah Eomma. Sudah menjadi kebiasaannya, ia akan pergi ke rumah nenek saat bertengkar dengan Appa. Dan seolah menyadari hal yang sama denganku, Appa bergegas menyusul Eomma ke halaman, mungkin untuk menghentikan Eomma.

Sekarang, hanya aku yang ada di ruangan makan itu. SeoHwa Ajeomma sudah lama menghilang ke dapur karena merasa tidak enak mendengar pertengkaran Appa dan Eomma.

Ruangan itu sekarang sangat sepi. Aku hanya di temani oleh piring-piring berisi nasi goreng dan lauk pauk yang menganggur di atas meja. Suara jam dinding yang berdetak secara berisik, sedikit mengurangi rasa sepi itu.

Aku menghela nafasku, perlahan-lahan aku bangkit dari kursi dan berjalan dengan pelan menuju ruang tamu. Dan di sana kembali ku lihat Appa dan Eomma yang bertengkar di halaman dari balik jendela besar yang menghadap ke arah halaman rumahku.

Mereka, apa yang seperti itu di sebut orangtua? Mereka berdua tidak mempedulikan Jihyuk yang menangis. Menangis karena ketakutan melihat mereka bertengkar.

Seketika saja, muncul sebuah pertanyaan dari dalam lubuk hatiku. Cinta. Apakah benar Appa dan Eomma saling mencintai? Bukankah kalau mereka saling mencintai mereka tidak akan bertengar seperti ini? Tapi kalau mereka tidak saling mencintai, kemudian bagaimana aku dan Jihyuk bisa terlahir ke dunia ini? Cinta macam apa itu? Apakah benar Cinta itu seperti ini? Terlihat benar-benar rumit dan kacau…

Ku larikan kakiku ke arah kamarku, ku raih tas sekolahku, dan tanpa banyak berpikir lagi ku bawa semua uang milikku yang tersimpan di dalam lemari. Cukup. Rumah seperti ini membuatku gila. Membuatku tidak tenang. Membuatku tidak mengerti seperti apa kehidupan itu sesungguhnya.

Mungkin aku akan lebih bahagia seandainya aku bukanlah aku. Seandainya aku bukanlah aku, mungkin aku tidak perlu mengalami semua ini. Dan saat ini, keluar dari rumah mungkin adalah keputusan yang tepat. Mungkin…

***

Tidak tepat. Keputusanku untuk kabur dari rumah sangat tidak tepat. Aku ingat, aku sangat ingin memenangi kompetisi tenis putri yang akan di adakan dua bulan. Bukankah kalau aku kabur dari rumah, aku juga tidak boleh ke sekolah? Aku tidak mau namaku di coret dari klub Tenis. Aku ingin menang di kompetisi itu. Karena itu aku harus bertahan. Aku tidak boleh menyerah. Tidak boleh !!

Pikiran-pikiran seperti itu terus mengambang di kepalaku saat aku menyusuri jalanan. Tadinya aku ingin membawa kakiku menjauh dari rumah, sejauh yang aku bisa, tapi sekarang kakiku membawaku menyusuri jalan yang menuju sekolahku.

Jalanan masih sangat sepi, bus umum juga masih tidak terlalu penuh karena masih ada waktu satu jam lagi sebelum jamnya orang-orang untuk bekerja. Aku pun lebih leluasa menikmati udara kota Seoul, yang walaupun tidak begitu segar, tetap saja bisa menenangkan pikiranku yang kacau balau. Pemandangan kota Seoul yang indah membuat waktu yang berjalan di sekitarku menjadi lebih cepat. Aku tiba di sekolah lebih cepat dari perkiraanku.

Aku tidak langsung menuju gerbang sekolah yang tentu saja ada beberapa guru piket dan satpam yang lagi bersiap-siap untuk berjaga di gerbang dan mengecek kelengkapan seragam siswa-siswi HwangRa high school. Aku lebih memilih untuk mengambil jalan di sisi taman bunga di samping sekolah yang kemudian membawaku ke sebuah lapangan tenis.

Aku melirik sekitarku sebentar untuk memastikan kalau tidak ada guru ataupun satpam di sekitarku, dan kemudian segera ku lemparkan tas sekolahku ke dalam lapangan tenis. Tidak buang waktu lagi, segera ku ambil ancang-ancang dan akhirnya swuuuuuung… aku sudah berada di dalam lapangan tenis dalam beberapa detik kemudian. Pagar lapangan yang lumayan tinggi sudah terbiasa untuk ku lompati jadi aku tidak mengalami kesulitan lagi.

Aku merapikan rambutku yang berwarna hitam kecoklatan dan bergelombang dengan menggunakan tanganku. Aku termasuk seorang cewek yang memperhatikan soal fashion, jadi aku tidak mau mengambil resiko terlihat jelek di mata orang lain.

Aku langsung mendudukkan pantatku di tengah-tengah lapangan tenis. Dengan perlahan ku angkat kedua tanganku atau lebih tepatnya ku regangkan otot-otot tanganku. Bukan untuk bermain tenis, karena ini masih terlalu pagi untuk bermain tenis, melainkan untuk menikmati sengatan lembutnya matahari pagi ke tubuhku.

Ada banyak hal yang ku sukai di dunia ini, hal-hal yang membuatku bisa melupakan untuk sejenak kekesalan di dalam hati. Matahari pagi adalah salah satunya, aku suka merasakan kehangatan lembut matahari pagi. Selain itu aku juga suka memandang bintang di malam hari, aku suka menari, aku suka menyanyi, dan yang paling aku sukai adalah bermain tenis. Bermain tenis sampai berkeringat dan kelelahan membuat pikiranku kembali fresh.

Tapi seperti yang tadi kubilang, ini masih terlalu pagi untuk bermain tenis, karena itu aku hanya duduk menghadap matahari, menikmati sinarnya sambil menutup mata, mencoba menenangkan pikiranku yang kacau karena pertengkaran kedua orangtuaku. Sebenarnya pikiranku kacau bukan hanya karena kedua orangtuaku, tapi juga karena Luhan Oppa.

Luhan adalah kekasihku, dia juga adalah murid HwangRa High School dan merupakan Sunbae-ku di klub tenis.Akhir-akhir ini hubungan kami retak, terlebih saat ia tidak menghadiri pesta hari jadi hubungan kami yang minggu kemarin ku adakan. Tanpa pesan, dan tanpa info apapun ia tidak datang ke pesta kami itu dan membuatku harus bersedih ria sepanjang pesta itu berjalan. Entah apa alasannya tidak datang, tapi yang pasti sampai saat ini aku masih tidak bisa menghubunginya. Luhan lenyap seperti di telan bumi.

Hemm~ hangat, sekarang tubuhku benar-benar hangat. Hangatnya seperti sedang meminum teh hangat bikinan SeoHwa Ajeomma. Ahh, nasi goreng milikku, kenapa sekarang aku malah teringat makanan? Bodohnya~~

Brukk, suara yang terdengar tidak jauh dari tempatku dudukku itu langsung membuyarkan konsentrasiku menikmati sinar matahari. Aku sontak menoleh, dan ASTAGA, siapa dia? Apa dia baru saja melompati pagar lapangan tenis?

Seorang cowok yang mengenakan seragam yang sama denganku terlihat berdiri di dekat pagar lapangan tenis, persis di pagar yang sama dengan yang tadi ku lompati. Aku masih belum melihatnya, tapi walaupun aku tidak melihat wajahnya, aku cukup yakin kalau ia adalah juniorku, dengan kata lain ia adalah murid kelas I HwangRa High School. Lambang biru yang yang ada di lengan kiri bajunya merupakan identitas tingkatan kelas.

Dan sekarang, cowok itu membalikkan badannya, dan akhirnya ia menyadari ada orang lain di lapangan tenis itu selain dirinya. Aku memandangnya, dan ia juga memandangku. Saat itulah aku menyadari kalau cowok itu sangat imut, tapi eyeliner tebal yang membingkai matanya membuatnya terlihat menyeramkan. Sebagai seorang cewek, aku harus mengakui kalau cowok itu memiliki kulit yang bagus, kulit putihnya terlihat bersinar di bawah sinar matahari., ia bahkan memiliki wajah yang ‘cantik’. Dan rambut coklatnya, astaga, seingatku sekolah melarang muridnya mewarnai rambut, berarti cowok ini juga memiliki sifat nekat seperti yang kumiliki. Perlu kelihaian untuk mempertahankan rambut berwarnamu dari mata para guru.

Cowok menyeramkan itu seolah tidak merasa terganggu dengan adanya diriku yang sudah jelas bisa menjadi saksi tindakan pelanggaran tata tertib yang baru saja di lakukannya. Ia bahkan dengan santainya menuju pintu pagar yang mengarah ke lingkungan inti sekolah.

“Hey, kau yang di sana !”, tiba-tiba saja cowok itu membalikkan badannya dan memandangku sekali lagi saat ia berada di depan pintu pagar, “Kim Taeyeon, murid kelas 3 itu adalah anggota klub tenis, kan?”

‘Kau?’ astaga !! berani sekali dia mengatakan kalimat informal padaku, dia kan baru kelas 1.

Aku menghembuskan nafas dan membuang pandanganku saat aku berkata, “Eoh, Kim Taeyeon Sunbaenim adalah anggota klub tenis. Dan… aku bukan ‘Kau’, aku memiliki nama !”

“Jinjja? sayangnya aku tidak tertarik untuk mengetahui siapa namamu. Baiklah, terima kasih infonya”, sahut cowok itu dengan nada suara yang tenang. Aku sontak langsung kembali menoleh ke arahnya. Apa??? Dia bilang apa??!! Kasar sekali ! Omo, ke mana dia pergi? Cepat sekali kaburnya ! Dasar cowok tidak tahu sopan santun !!

To Be Continue

seo 111

16652_baekhyun

1395983_1428461330707346_936683835_n

Diposkan pada Actor

Profil Terbaru Song Joong Ki


Song-Joong-Ki-korean-actors-and-actresses-28339437-300-353

Nama : 송중기 / Song Joong Ki (Song Jung Ki)
Profesi : Aktor, MC
Tanggal Lahir : 19 September 1985
Tinggi badan : 178 cm
Berat Badan : 65 kg
Zodiak : Virgo
Gol. darah : A
Perguruan tinggi : Universitas Sungkyunkwan
Agensi : SidusHQ
Official Homepage : http://www.sidushq.com/star/sjki
Twitter : http://twitter.com/songjoongki

Drama TV :

Nice Guy (KBS2, 2012)
Sungkyunkwan Scandal (KBS2, 2010)
Obstetrics and Gynecology Doctors (SBS, 2010)
Will it Snow at Christmas? (SBS, 2009)
Take Care of the Young Lady/My Fair Lady (KBS2, 2009) cameo
Triple (MBC, 2009)
My Precious Child (KBS2, 2008)
Love Racing 러브 레이싱 (TV Komedi, 2008)

TV Show :
Running Man (SBS, 2010)
Let”s Go! Dream Team 2 (KBS, 2009)
Music Bank (KBS,2009)

Pretty Boys Arong Situation (m.net, 2008)

Movies :
I Was Born, But (2011) – Ji-Woong
Hearty Paws 2 (2010) – Dong-Wook
Where the Truth Lies (2009) – Jo Jong-Pi
Five Senses of Eros (2009)
A Frozen Flower (2008)

Penghargaan :
2010 KBS Drama Awards: Popularity Award (Sungkyunkwan Scandal)
2010 KBS Drama Awards: Best Couple Award with Yoo Ah In (Sungkyunkwan Scandal)

 

Fakta Song Joongki :

  1. Suatu waktu ketika ia menaiki bus, supirnya bertanya, “Benarkah kau seorang mahasiswa?”. Hal tersebut terjadi ketika ia menginjak umur 20 tahun. (supir Bus kayaknya tertipu dengan tampang cute Joongki oppa, mungkin dikiranya masih pelajar ^^ )
  2. Song Joong Ki adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak laki-lakinya dua tahun lebih tua darinya dan adik perempuannya lebih muda tujuh tahun darinya. Jika teman adiknya bertanya tentang Song Joong Ki, dia akan berkata, “Di rumah ia (Joong Ki) selalu berjalan dengan hanya memakai celana dalam”. ( aigooo~ oppa *.* gak bisa ngebayangin deh -_- )
  3.  Soong Joong Ki mengungkapkan bahwa sebenarnya ibunya ingin anak keduanya adalah perempuan. Ia juga menambahkan bahwa ibunya kecewa ketika yang lahir adalah anak lai-laki. Makanya ada beberapa foto Joongki oppa yang didandani seperti anak perempuan dengan memakai rok dan rambut diikat ke belakang.
  4.  Pada saat sekolah Song Joong Ki aktif bermain sepak bola dan basket bersama teman-temannya. Tapi ketika sendirian ia akan memakai sunblock dan topi lalu pergi ke gym. Ia mengikuti pertandingan skater di tingkat Nasional sebanyak tiga kali sebagai wakil dari daerahnya, Taejeon Gwang’yeogsi dan memenangkan award di pertandingan lain yang lebih besar.
  5.  Debut Song Joong Ki dilayar televisi adalah ketika ia mengikuti program Quiz Korea yang disiarkan KBS. Namun fakta bahwa ia bisa masuk final adalah sebuah keberuntungan, karena salah satu peserta membatalkan keikutsertaannya. Ia kemudian terpilih menjadi model untuk cover College Tomorrow. Walaupun ia sudah menentukan bahwa ia akan menjadi seorang aktor, tapi tetap saja ketika teman-temannya di sekolah melihat fotonya dia pamplet, ia masih merasa malu.
  6.  Pada tahun 2008, Song Joong Ki bermain dalam film A Frozen Flower. Ia berkata bahwa ia merasa sedih karena semua laki-laki yang terlibat dalam film itu bertubuh tinggi, bahkan sang sutradara (Yoo Ha) hampir mencapai 190cm, sedangkan tinggi Song Joong Ki adalah 178cm. Ketika syuting, sutradara mengatakan bahwa ia harus menurunkan berat badannya. Awalnya ia tidak mengerti maksud sutradara tapi setelah melihat filmnya barulah ia mengerti. ( dulunya Joongki oppa agak gendut gitu ^^ )
  7.  Di M.net’s [꽃미남 아롱사태] (2009) Song Joong Ki selalu bersikap layaknya model sekolah yang selalu pergi ke perpustakaan. Ia mengaku, aslinya ia tidak seperti itu
  8.  Pada 2009, Song Joong Ki menjadi cameo di drama My Fair Lady. Sebuah drama yang diperankan oleh Yoon Eun Hye dan Yoon Sang Hyun. Drama tersebut mendapat rating 17,4% di episode perdananya. Di drama tersebut, tepatnya di episode pertama, Song Joong Ki berperan sebagai kepala rumah tangga, sebelum akhirnya tugas itu diambil alih oleh Yoon Sang Hyun. Di tahun yang sama pula Song Joong Ki menyelesasikan syuting drama ‘Triple’.
  9.  Pada tahun 2010, Song Song Ki bermain drama Obstetrics and Gynecology Doctors atau 산부인과 여의사 (OB/GYN) yang ditayangkan di SBS bersama Jang Seo Hee. Dalam drama tersebut, ia berperan berperan sebagai dokter, hanya saja perannya bukanlah sebagai pemeran utama. Pada saat yang sama, Song Joong Ki menjadi MC di program televisi ‘Musik Bank’ bersam Seo Hyo Rim (2009-2010). Program yang ditayangkan di KBS TV tersebut menampilkan 10 deretan lagu terfavorit dan juga menampilkan idola-idola yang perform di atas panggung.
  10.  Di tahun yang sama pula, Song Joong Ki kembali berakting. Kali ini ia berakting dalam drama bertema kolosal (saeguk) ‘Sungkyunkwan Scandal’ bersama Yoochun J.Y.J, Park Min Young, dan Yoo Ah In. Dalam drama yang bergenre komedi romantis itu, ia memerankan tokoh Yeorim (playboy) aka Gu Yong Ha, senior Yochun dan Min Young di Sungkyunkwan (*universitas tempat Joong Ki kuliah), sekaligus juga salah satu anggota Jalgeum Quartet atau F4-nya Joseon.
  11.  Pada tanggal 12 April 2010, Song Joong Ki merilis buku yang berjudul ‘“Beauty Guy Project’. Ternyata selain berakting dan menjadi MC, dibalik wajahnya yang imut, Song Joong Ki juga juga berbakat dalam hal menulis buku. Tidak tanggung-tanggung, penerbitan buku tersebut mendapat respon positif dari masyarakat, hanya dalam satu bulan buku karangan Song Joong Ki tersebut telah habis terjual hingga akhirnya meraih gelar bestseller. Buku tersebut bercerita tentang wajah cantik pada pria, wajar saja karena Soong Jong Ki sendiri disebut-sebut sebagai pria cantik yang berkulit mulus. Kepopuleran ““Beauty Guy Project” tidak hanya di Korea Selasan tapi juga telah meluad sampai Ke Taiwan, Hongkong, Cina, dan Jepang
  12.  Sekali lagi Song Joong Ki menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang multitalenta. Hal tersebut dibuktikan dengan kebolehannya dalam mendubbing. Pada 8 April 2011, Blue Sky bekerjasama dengan Fox merilis film animasi 3D berjudul ‘Rio’. Film yang bercerita tentang Blue, seekor burung kakak tua dari Minnesota yang berpetualang ke Rio de Jeneiro ini diisi oleh suaranya Song Joong Ki (*Whoa selain menjadi MC, berakting, dan menulis buku, Joong Ki juga mendubbing).
  13.  Pada tahun 2012, Song Joongki mendapat banyak pujian karena acting bagusnya di drama Nice Guy.images
  14. Ketika masih kecil, ia tidak suka disebut ‘cantik’, tapi sekarang ia menyukai ketika orang-orang menyebutnya cantik.
  15.  Joongki tidak mau mengungkapkan cinta pada gadis, kecuali ia tahu kalau gadis itu menyekainya.
  16. Ia selalu memakai tabir surya ketika bermain basket.
  17. Ia suka menyanyikan lagu Ballad dan ingin bermain gitar sambil bernyanyi seperti Bruno Mars .
  18. Aktris favoritnya adalah Jeon Do Yeon. Ketika bertemu di departemen store, Song Joong Ki pernah berlari menghampirinya dan berkata, “Hello” dan Jeon Do Yeon tersenyum. (*Karismanya telah menggetarkan hati Joong Ki).
Diposkan pada FanFic, Uncategorized

[ FANFIC ] Super Junior The Vampire’s Zone Part 2


Gambar

Cast :

Hyona (fiksi)

Ryeowook

Yesung

All member Super junior

Younmi (fiksi)

Jaejin (fiksi)

*Chapter 2*

“HyoNa ssi, JaeJin ssi, kita bisa membicarakan hal ini”, kata LeeTeuk, dia bermaksud menghampiri HyoNa dan JaeJin, tapi mereka berdua berteriak histeris dan lari ke arah pintu.

“Hey kalian..!!”, seru HeeChul, refleks dia mengejar HyoNa dan JaeJin, diikuti oleh member Super Junior yang lain.

HyoNa dan JaeJin mempercepat kaki mereka, tapi mereka kalah cepat dari kaki Super Junior yang panjang-panjang, dengan waktu cepat para member Super Junior sudah hampir menangkap mereka.

“Hwaaaaaa….!”, HyoNa dan JaeJin berteriak panic, mereka terus berlari.

“Tunggu, heeeey kalian, kita bias merundingkan masalah ini”, kata Lee Teuk setengah berteriak. Super Junior terus mengejar.

Saat di depan lift HyoNa tersentak kaget, dari dalam lift keluar wartawan dan reporter dari majalah lain.

Entah karena kaget melihat wartawan atau entah karena panik dikejar Super Junior, HyoNa tersandung kaki JaeJin sehingga dia kehilangan keseimbangan, tubuhnya oleng dan jatuh.

Karena posisi RyeoWook yang paling dekat dengan HyoNa, RyeoWook bermaksud menangkap tubuh HyoNa agar cewek itu gak jatuh ke lantai, tapi karena kurang hati-hati tubuh HyoNa justru menubruk badannya, mereka jatuh bersamaan.

Semua orang tertegun melihat adegan itu, dalam sudut pandang dari arah para wartawan, adegan itu terlihat seperti RyeoWook yang mencoba menahan tangan HyoNa dan memeluknya.

HyoNa dan RyeoWook sendiri juga kaget menyadari posisi ‘jatuh’ mereka.

‘Omo, omo… RyeoWook ssi, tunggu… nona, bukankah anda reporter dari majalah News Effect’”, kata salah seorang wartawan.

Member Super Junior terlihat panic, mereka menutup mulut mereka rapat-rapat, takut ketahuan ‘lagi’.

“Waaaa… ternyata kalian… kalian adalah…”, kata wartawan lain sambil menunjuk-nunjuk kearah yang gak jelas (bagi member Super Junior, tangan wartawan itu terlihat seperti menunjuk mulut Ryeowook, kan ada taring di situ ^^).

Jantung member  Super Junior seperti di aliri listrik ribuan volt, kalau wartawan-wartawan itu mengetahui identitas mereka sebagai vampire maka tamatlah sudah…

“Sepasang kekasih !!!!!”, seru para wartawan bersamaan.

“Nde??”, Super Junior melongo mendengarnya, mereka saling pandang.

“Ini  hot gossip !!! reporter dari News Effect berpacaran dengan RyeoWook Super Junior !!!”, seru wartawan-wartawan itu lagi, segera saja ribuan blitz kamera tertuju ke arah HyoNa dan RyeoWook.

Mendengar itu HyoNa cepat-cepat berdiri, “Ani, aniyo, kalian salah, sebenarnya…”, belum sempat HyoNa meneruskan ucapannya sebuah bibir lembut mendarat di bibirnya.

Yesung meng’kiss HyoNa, cewek itu terdiam kaget, kehilangan kata-kata.

“Yang sebenarnya adalah cerita cinta segitiga antara aku, RyeoWook dan cewek ini”, kata Yesung menyambung ucapan HyoNa sambil memeluknya, HyoNa yang masih kaget malah tambah kaget lagi mendengar pernyataan GILA dari Yesung.

“Nde??”, kali ini para wartawan yang melongo kaget.

Memanfaatkan kekagetan para wartawan, manajer-manajer Super Junior  (yang entah datang dari mana ^^) menarik Ryeowook, HyoNa, JaeJin dan Yesung ke belakang mereka. Sementara itu para bodyguard Super Junior langsung membawa mereka kabur dari para wartawan.

***

Senyap,

Diruangan itu HyoNa, JaeJin, member Super Junior dan menejer duduk mengelilingi sebuah meja, saling pandang dengan ekspresi serius.

HyoNa menggebrak meja dengan tangannya, “Apa maksud kalian dengan menyuruh kami merahasiakannya !!”, serunya marah.

JaeJin yang duduk disampingnya tampak kaget mendengar gebrakan  meja dan teriakan HyoNa.

“Aigoooo, anak ini”, gumam salah seorang manajer Super Junior, namanya adalah Byun Na Hoon, “Bukankah tadi sudah kujelaskan, kalian berdua harus merahasiakan jati diri Super Junior sebagai Vampire, imbalannya adalah kalian akan selalu menjadi yang pertama mengetahui berita-berita dari Super Junior atau artis SM Entertaiment lainnya”

“Tapi kenapa menempatkanku dalam posisi sulit seperti tadi?? MWO?? Aku terlibat cinta segitiga dengan Ryeowook dan Yesung, apa-apaan itu?!!!”, seru HyoNa lagi, kali ini suaranya sangat keras, penuh emosi.

“Mianhae HyoNa ssi, tadi itu akau terpaksa mengatakannya, aku khawatir kamu membocorkan rahasia kami”, kata Yesung yang di sertai anggukan oleh member Super Junior yang lain.

“Mwo?? Menghentikanku?? Kalian ini benar-benar keterlaluan !!!”, HyoNa berdiri dari kursinya. Dia memandang Yesung dengan sangat marah, “dan kalian, para menejernya, apa kalian gak takut digigit mereka, kenapa malah membantu mereka”

“Tenang saja, mereka tidak meminum darah manusia kok, yang mereka minum hanyalah darah burung phoenix”, kata manajer Byun.

“Hah??”, JaeJin kaget mendengarnya, “phoenix?? Bukannya burung itu udah punah yaa”

“Punah? Hohoho…. Aniyo, banyak yang mengira burung itu punah tapi sebenarnya mereka gak punah”, kata manajer Byun. (harap maklum yang nulis cerita ini otaknya lagi ngawur ^^).

“Jadi maksud anda mereka gak menggigit manusia??”, tanya HyoNa dan JaeJin nyaris bersamaan.

“Ne”, jawab menejer Byun disertai senyuman manis member Super Junior.

“Of course, kami kan vampire kelas elit”, tukas SiWon menyombongkan diri ^o^

HyoNa duduk lagi di kursinya, “Soal perjanjian kita tadi, kalian serius kalau hanya kami yang pertama kali mengetahui EVERYTHING tentang kalian? Eksklusif hanya dengan kami ??”

“Benar, kami serius, kalian dapat memegang janji kami”, kata LeeTeuk, “Bukankah perjanjian ini saling menguntungkan kedua belah pihak”

HyoNa dan JaeJin saling pandang.

“Kalian setuju?”, Tanya LeeTeuk lagi, seluruh pasang mata memandang mereka.

HyoNa dan JaeJin berdiskusi sebentar sebelum akhirnya mereka berdua mengatakan ‘YES’.

Para member Super Junior bertepuk tangan.

“Gomapta, kami harap perjanjian ini dapat berjalan dengan baik”, kata HeeChul sambil tersenyum.

“Ne, begitu juga dengan kami”, kata HyoNa balas tersenyum.

To be Continued ^^